Melihat kondisi jasad ketua sekte mereka tanpa kepala membuat mata para tetua mulai memerah, kesedihan dan amarah bercampur menjadi satu. Ketua Sekte mereka telah gugur, bukan hanya terluka, tetapi dibunuh dengan cara yang begitu keji. Dari lukanya, mereka bisa menebak dengan mudah jika ketua sekte mereka dibunuh dalam sekali tebas.

Saat mereka tengah berduka, salah satu tetua melihat sesuatu di dekat semak-semak.

"Itu... kepala Ketua Sekte!"

Tangisan dan seruan pilu segera pecah di tengah kelompok. Kepastian bahwa pemimpin mereka telah terbunuh dengan brutal membuat duka semakin mendalam. Dengan hati yang berat, mereka mengumpulkan jasad Ketua Sekte untuk dibawa kembali ke sekte.

Saat hendak mengangkat tubuhnya, salah satu tetua menyadari sesuatu yang aneh. "Cincinnya... Salah satu cincinnya hilang!"

Mereka saling berpandangan, kebingungan. "Cincin penyimpanan? Mungkin pembunuhnya mengambil harta Ketua Sekte!" ujar seorang tetua dengan nada marah.

"Jika pembunuhnya menginginkan harta, seharusnya semua cincin dan benda berharga diambil. Lihat! Bukankah itu cincin penyimpanan ketua sekte pemberian leluhur. Bahkan pembunuhnya tidak mengambilnya." kata tetua yang lain.

"Mungkinkah cincin itu berhubungan dengan rahasia keberadaan kunci dimensi? Atau ada rahasia lain yang tidak kita ketahui mengenai cincin itu sehingga hanya cincin itu saja yang diambil pembunuhnya" tetua lain berkata sambil mengepalkan tinjunya menahan emosinya.

Tidak ada yang tahu pasti fungsi cincin itu selain Ketua Sekte sendiri dan pembunuhnya, tetua Xie, tetapi anggapan bahwa pembunuhnya telah mencurinya semakin menambah kemarahan mereka.

"Apapun alasannya, kita harus segera kembali ke sekte membawa jasad ketua sekte dan memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Kita tidak bisa membiarkannya berlama-lama dalam kondisi seperti ini." kata tetua lain yang lebih bijak.

Mereka segera kembali ke sekte Api Langit dengan cepat. Dalam diamnya, mereka memiliki pemikiran yang sama, akan membalas dendam kepada pembunuh ketua sekte mereka, siapapun orangnya. Meskipun orang misterius yang memiliki kekuatan di atas kemampuan mereka dan menjadi tersangka utama sebagai pembunuh ketua sekte mereka.

Setibanya mereka kembali di Sekte Api Langit, kesedihan menyelimuti seluruh anggota sekte. Kabar kematian Ketua Sekte dengan cepat menyebar, dan duka yang mendalam terasa di setiap sudut sekte. Murid-murid menangis, para guru berlutut dalam duka, dan para tetua saling menatap dengan ekspresi penuh tekad.

"Orang misterius itu harus bertanggung jawab!" seru salah seorang tetua. "Jika kita bertemu dengannya lagi, kita harus menuntut jawabannya, bahkan jika itu berarti membunuhnya!"

Namun, di tengah keributan itu, barulah mereka menyadari sesuatu yang aneh.

"Tetua Xie... Di mana Tetua Xie?" tanya seorang tetua dengan curiga.

Mereka segera mencari-cari keberadaannya, tetapi Tetua Xie telah menghilang. Tidak ada jejaknya di sekte.

Di tengah suasana berkabung dan kemarahan, Li Wei melangkah maju, wajahnya penuh tekad.

"Kalian semua salah!" suaranya menggema di aula utama. Semua orang menoleh padanya.

"Orang misterius itu bukan pembunuh Ketua Sekte! Dia bukan musuh kita! Dia adalah penolong kita! Aku yakin ada alasan di balik semua ini!" lanjutnya dengan suara lantang.

Beberapa murid mulai berbisik, sementara para tetua menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

Tetua yang lain menggeleng. "Li Wei, aku tahu kau merasa berhutang budi padanya, tetapi bukti yang kita temukan tidak bisa dibantah. Jangan membiarkan perasaan mengaburkan kebenaran."

Li Wei mengepalkan tangannya, frustasi karena tidak ada yang percaya padanya.

Tetua Lian yang sedari tadi memperhatikan akhirnya angkat bicara. "Li Wei, aku mengerti perasaanmu. Namun untuk saat ini, kembalilah menjaga Ling Mei. Kita semua akan mengadakan upacara penghormatan terakhir untuk Ketua Sekte."

Li Wei menatap mereka dengan ekspresi putus asa, tetapi ia tahu bahwa tidak ada gunanya berdebat saat ini. Dengan hati yang berat, ia berbalik dan kembali ke kamar Ling Mei, sementara sekte bersiap untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin mereka yang telah gugur.

Di tempat lain, dalam bayang-bayang hutan, seorang wanita berbalut jubah hitam berdiri diam, memperhatikan dari kejauhan. Di tangan kanannya terlihat menggenggam sebuah kertas gulungan dan tangan satunya memegang kulit tipis berbentuk wajah yang sebelumnya dia gunakan untuk penyamaran. Dengan tatapan dingin, dia berbisik pelan, "Orang misterius, kamu harus merasakan bagaimana rasanya orang yang kamu tolong justru ingin membunuhmu..."

***

Lynx, Arkha, Kael, dan Karim akhirnya tiba di kota Zhurong, sebuah kota yang ramai dan penuh dengan hiruk-pikuk para pedagang serta petualang dari berbagai penjuru. Mereka segera menuju tempat pertemuan yang telah disepakati dengan Lala dan Jelita, yaitu di paviliun Api Emas. Sebagai kota para pendekar di mana banyak sekte kecil dan keluarga ahli pedang bermukim, Zhurong dikenal sebagai tempat terbaik bagi pedagang untuk menjual berbagai bahan mentah dan berbagai senjata.

Saat memasuki sebuah rumah makan bertingkat tiga, sebuah bangunan besar dengan arsitektur khas yang megah dan aroma wangi makanan yang menggoda selera, mereka langsung disambut oleh sosok yang telah lama mereka cari.

"Jelita!" seru Arkha, matanya membulat tidak percaya.

Jelita yang sedang berbincang dengan Lala dan seorang pria tua berwibawa, Tuan Zhen Huan, menoleh. Matanya melebar sebelum akhirnya senyumnya mengembang penuh haru.

"Arkha... Kael... Karim..." suara Jelita bergetar sebelum ia berlari ke arah mereka.

Arkha tidak bisa menahan dirinya. Ia langsung meraih Jelita dalam pelukan erat. "Kami mencarimu selama ini... Aku tidak percaya akhirnya kita bisa bertemu lagi."

Jelita tertawa kecil, namun air matanya jatuh. "Aku juga... Aku juga selalu berharap kita bisa bertemu lagi..."

Kael dan Karim menyusul, keduanya menepuk bahu Jelita dengan ekspresi lega. "Kau baik-baik saja, bukan?" tanya Karim dengan suara serak menahan emosi.

Jelita mengangguk cepat. "Aku baik-baik saja, terima kasih telah mencariku."

Suasana haru dan bahagia menyelimuti mereka. Lala yang berdiri di sisi mereka tersenyum lembut, sementara Tuan Zhen memperhatikan dengan sorot mata penuh kebijaksanaan.

Lynx yang sejak tadi memperhatikan akhirnya menatap Tuan Zhen Huan. "Tuan Zhen, sudah lama tidak bertemu."

Pria tua itu tersenyum. "Xiao Ling, aku sudah menduga saat bertemu denganmu bahwa kamu adalah pria yang selalu di bicarakan oleh Lala dan yang lainnya. Bagaimana kabarmu?"

Lynx membalas dengan sedikit senyuman. "Aku baik. Aku harap Tuan Zhen juga dalam keadaan sehat."

Tuan Zhen mengangguk pelan sambil tertawa kecil. "Tentu saja. Aku tidak akan mati begitu cepat."

"Tunggu, siapa Xiao Ling?" tanya Karim dengan nada heran.

"Lynx, apakah kamu belum memberitahu mereka?" tanya Lala sambil memandang Lynx.

"Memberi tahu apa Lala?" tanya Arkha dengan penasaran.

Lala tersenyum genit dan mengedipkan mata kearah Lynx, lalu melanjutkan kata-katanya,"Selama menghilang, Lynx menggunakan nama Xiao Ling di dunia ini dan dia dirawat oleh Jelita dengan nama Yun Qing. Mereka sebagai suami..."

Lynx yang sudah merasakan firasat tidak enak saat melihat Lala mengedipkan mata kepadanya, langsung bergerak cepat dan menutup mulut Lala dengan tangannya.

"Jangan dengarkan dia, kalian tahu, dari dulu Lala suka mengerjaiku. Jahilnya  kumat lagi." kata Lynx sambil tetap berusaha menutupi mulut Lala yang bergerak-gerak berusaha bersuara.

Tuan Zhen yang melihatnya hanya tersenyum. Saat bersama Lala dan Jelita, dia sudah mendapatkan penjelasan mengenai situasi yang sebenarnya terjadi antara Lynx dan Jelita.

Lala yang mengetahui karakter polos Jelita dan juga paham dengan sifat Lynx yang setia, mempercayai cerita Jelita tentang Lynx yang selalu mengingat Leena disetiap kondisi meski hilang ingatan. Lala merasa sangat iba kepada Jelita setelah mengetahui ketika Lynx pulih ingatannya, dia  tidak mengingat kejadian selama tiga tahun yang dilalui bersama Jelita. Lala merasa iba dan sedih melihat nasib Jelita dan berpikir ke dirinya sendiri yang diam-diam juga memendam perasaan kepada Lynx sejak lama.

Arkha, Kael dan Karim menatap Lynx dan Lala dengan kebingungan. Mereka juga melihat perubahan sikap Lala yang drastis sejak bertemu dengan Lynx.

"Suami... Suami apa Lala? Ada apa kepala suku?" Tanya Karim yang masih penasaran. Dia menatap Jelita seolah minta penjelasan.

